Guru Nongkrong di Facebook. Ajakan ini pernah saya lontarkan sebagai antisipatif dampak buruk dari akun jejering sosial ini pada peserta didik (baca disini). Suatu ketika seseorang sebut saja si Adul iseng mengirim saya sebuah foto bernuansakan pornografi. Betapa terkejutnya diri saya karena si Adul men-Tag nama saya dalam foto tersebut dan ternyata foto tersebut telah bertengger di koleksi foto saya selama 4 hari. Buru-buru saya hapus foto itu. Setelah saya menghapus foto itu, ada rekan guru disekolah bertanya kepada saya kenapa ada foto porno dikoleksi foto saya. Sekali lagi saya terkejut dan saya menjelaskan bahwa foto itu kiriman si Adul dan saya selama 4 hari tidak membuka akun saya di jejaring sosial ini dan saya nyatakan bahwa foto itu telah saya hapus. Pertanyaan saya, “Mengapa FB sampai lalai tidak menyeleksi foto yang beredar?”

Mensikapi masalah tersebut, saya kemudian selalu aktif mengunjungi FB dengan tujuan memantau perkembangan akun peserta didik saya. Jika saya menemukan hal-hal yang menyimpang saya berusaha melaporkannya pada FB dengan meng-klik tanda diujung kanan foto.

Jika itu berupa tulisan-tulisan yang melanggar norma dan undang-undang, saya catat nama peserta didik kemudian saya lakukan pendekatan untuk memberi pengarahan tentunya dengan gaya profesional saya menangani peserta didik.

Betapa sulitnya apa yang saya lakukan. Saya katakan sulit karena jumlah peserta didik yang harus saya awasi ada sekitar 300 orang aktif di akun FB. Untuk itu saya mengajak para guru untuk juga memiliki tanggung jawab moral memantau perkembangan peserta didik di masyarakat termasuk akun jejaring sosial. Namun sayangnya, dari 45 orang guru di sekolah saya, 15 orang diantaranya sudah diakui profesionalitasnya dengan gaji rata-rata 4-5jt/bln hanya 1 orang saja yang melek internet. Kebetulan profesionalitas saya tidak diakui dengan artian saya adalah guru yang tidak profesional. Sehingga saya perlu menghimbau para orang tua yang memiliki anak-anak cerdas agar turut pula mengembangkan diri untuk mengimbangi kemampuan mereka dalam informasi dan tekhnologi (IT). Luangkanlah waktu anda untuk memantau aktivitas anak-anak anda didunia maya. Tidak hanya aktivitasnya di jejaring sosial, juga aktivitas browsing, blogging dan aktivitas-aktivitas lain berkaitan dengan IT.

Kabar-kabar tentang prostitusi, penculikan anak, sampai pencemaran nama baik membuat saya harus ekstra mengawasi buah hati saya Hugo Ramadhani Ibrahim yang juga sudah memiliki akun FB. Dalam usianya yang 10th, si Hugo sudah dapat membuat akun FB sendiri. Ini tak lepas dari didikan saya untuk selalu mengupdate informasi seputar dunia anak di internet.

Suatu ketika, karena ingin tahu, saya mencoba mendapatkan password akun FB-nya. Dengan sedikit kemampuan, saya dapatkan passwordnya. Saya kaget ketika melihat tulisan dia didinding kawannya yang bernada melecehkan (penghinaan). Kalo tulisan itu dibawa dalam ranah hukum, anak saya sudah dapat dituntut Pasal 27 Ayat (3) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) tentang penghinaan dan pencemaran nama baik. Dia menyebut kata-kata bangsat, pelacur dan kata-kata lain yg tidak pantas saya tampilkan disini pada teman perempuan seusia dia. Langsung saya hapus kata-kata tersebut karena saya sudah masuk dalam akun dia. Seketika itu juga saya beritahukan pada istri saya dan langsung menelpon ibu kawan Hugo dan meminta maaf atas peristiwa itu.

Anak-anak kita, haruskah masa depan mereka hancur akibat dari ketidak tahuannya dan lemahnya bimbingan orang tua dan guru?

Berikut ini tips dari saya dalam mengawasi anak-anak anda di jejaring sosial:

  1. Add anak anda sebagai teman sehingga anda akan selalu mengetahui tulisan-tuliasan terbaru dia.
  2. Belajarlah menulis dengan baik sebagai contoh bagi anak anda, hindarkan menulis yang bermakna jorok/porno ketika mengomentari teman-teman anda karena kemungkinan anak anda juga membacanya.
  3. Sampaikan kepada mereka bahwa FB / FS ada sisi baik dan buruknya.
  4. Sampaikan bahwa didunia maya tidak ada tempat pribadi sehingga semua orang dapat mengetahui semua yang kita simpan disana. Ini menghindarkan anak menyimpan foto-foto pribadi diakun mereka seperti di FS.
  5. Bujuk dia untuk memberitahukan passwordnya agar anda dapat memonitor kiriman-kiriman gambar dari pihak lain, bila dianggap perlu menghapusnya jika ada kiriman gambar yang kurang berkenan dan menyaring kawan-kawan dia.
  6. Ajak mereka ngobrol seputar aktifitas mereka didunia maya.
  7. Batasi waktunya menggunakan jejaring sosial, tunjukkan aktifitas-aktifitas lainnya yang lebih menarik di dunia maya.
  8. Update terus pengetahuan anda dalam perkembangan IT sehingga anda tidak ketinggalan informasi.

Jika anda memiliki tips lainnya, silahkan berbagi untuk saya dan pembaca saya. Semoga bermanfaat.

Baca artikel lain yang berhubungan

19 Responses to ““AYO” Nongkrong di Facebook”

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
[+] kaskus emoticons nartzco