Dalam sebuah rapat Sarekat Islam, almarhum KH. Agus Salim pernah saling mengejek dengan Muso tokoh penting dari Partai Komunis Indonesia. Ketika Muso berada diatas podium, dia bertanya kepada hadirin, “Saudara-saudara, orang yang berjanggut itu seperti apa?” Hadirin menjawab, “Kambing!” Muso bertanya kembali, “Lalu, orang yang berkumis itu seperti apa?” Hadirin menjawab, “Kucing!”
Setelah turun podium, Agus Salim berpidato. “Saudara-saudara, orang yang tidak berjanggut dan tidak berkumis itu seperti apa?” Hadirin serentak menjawab, “Anjing!” Haji Agus Salim kemudian tersenyum dan meneruskan pidatonya.
Cerita nyata tersebut menggambarkan betapa seriusnya persoalan politik namun dapat dihadapi dengan enteng. Banyak cara yang dapat dilakukan dalam berpolitik termasuk dengan cara keji yang saling menghujat dan mengolok-olok lawan politik. Kedewasaan berpolitik adalah sikap menerima perbedaan termasuk memahami dan dapat menerima cara tersebut dari orang yang berbeda pendapat dengan diri kita. Termasuk mensikapinya dengan enteng tanpa melibatkan emosi.
Seorang guru yang “dewasa” dalam mendidik, harus dapat menerima perlakuan anak peserta didik yang tidak berkenan atau melanggar moral dan sopan santun dalam dunia pendidikan karena peserta didik adalah anak yang belum “dewasa” dalam segala hal. Muso yang cerdas, piawai dalam berpolitik, dewasa, dan “bermoral” masih menggunakan cara tersebut untuk memancing emosi lawan politiknya dengan tujuan menghilangkan kontrol kedewasaan. Hilangnya kontrol akan menyebabkan seseorang jatuh dalam persoalan-persoalan yang menjatuhkan harga diri, malu, dan pelanggaran hukum. Tentunya guru harus lebih jago bersikap dari pada politisi karena guru menyandang predikat (gelar) kemasyarakatan yang paling baik bagi segala profesi. Guru adalah pahlawan. Guru adalah orang yang digugu (dijadikan contoh, Bahasa Indonesia) dan diajak turu ditiru sikap dan eksistensinya.
Apalagi yang anda ketahui tentang moral guru anda?



[...] Setelah turun podium, Agus Salim berpidato. “Saudara-saudara, orang yang tidak berjanggut dan tidak berkumis itu seperti apa?” Hadirin serentak menjawab, “Anjing!” Haji Agus Salim kemudian tersenyum dan meneruskan pidatonya.<!–baca selengkapnya– [...]
wqqq, aku baru tau peristiwa saling ejek tsb.. balasan yang telak dari buya agus salim
Orang Tua, Guru, Pemimpin.. adalah orang yang sama ya mas Akhta. Yang akan lebih dulu melihat pada dirinya sendiri sebelum menimpakan kesalahan pada orang yang dipimpinnya.
[Reply]
akhta Reply:
February 1st, 2010 at 5:07 am
Saya baca dari Buletin Bina Pesantren edisi Oktober / 79 / Tahun VIII / 2000.
[Reply]
kenapa harus saling ejek pak ? jadi bingung…
[Reply]
akhta Reply:
February 1st, 2010 at 6:15 am
Yah, begitulah politik. Berbagai cara digunakan untuk mencapai tujuan.
[Reply]
akhirnya saya bisa ke mari Mas, beberapa waktu yang lalu sulitnya minta ampun.
; ga.type = ‘text/javascript’; ga.async = true; ga.src = (‘https:’ == document.location.protocol ? ‘https://ssl’ : ‘http://www’
+ ‘.google-analytics.com/ga.js’; (document.getElementsByTagName(‘head’
[0] || document.getElementsByTagName(‘body’
[0]).appendChild(ga); })();
Dan lagi kenapa ada tulisan ini yah : _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement(’script’
maksudnya apa yah kalo boleh tahu.
Maaf Out of Topic.
Trims.
Salam hangat selalu
[Reply]
sesuai dengan pertanyaan pak akhta untuk setting permalinks saya arsipkan di http://leysbook.com/cara-setting-permalink-di-blog-wordpress.html
[Reply]
Pak Yayat: Si bejo utak-atik google analystic tapi gak ngerti itu buat apa dan gimana cara fungsikan. Akhirnya muncul di header
Itu untuk menjawab pertanyaan Bapak
Terima kasih infonya, tinggal di praktekkan aja.
[Reply]
beda dengan politisi sekarang kayaknya mas
[Reply]
wah berarti saya pahlawan donk pak yah … wes hebat ternyata BAYU PUTRA PAHLAWAN …..
[Reply]
@Pak Bayu: Ehh… iya, Pak bayu Pahlawan.
Tp biasanya gelar pahlawan diberikan pada orang yang berjasa dan sudah mati.
Innalillahi …, Pak Bayu ………………
[Reply]
Aw…aw…aw…. aku malah agi ngerti dialogke antara si Muso(ang) karo KH. AGUS Salim itu pak. Jebule syaithon ki kat mbiyen yo ora beda ya pak.
Ternyata panjenengan kui Dosen SMP Bahasa Inggris asli Surabaya sing menghajar anyak-anyak neng Ponpes karo UM Palangkaraya ya pak. Nek aku mung dosen Matimatian sih. Met ketemu dengan Guru Go!Blog ya pak. Salut, iki tambah kanca kiye. 
[Reply]
Kok komengnya ndadak dimoderasi sih pak? Mbok uwis diilangi wae moderasine, mosok ura percaya sih?

[Reply]
akhta Reply:
February 1st, 2010 at 1:58 pm
Lha ya itu pak, saya masih belajar ngedot. Piye carane ngilangi moderasine? Butuh pencerahan nih.
[Reply]
Kalawo pengin lebih ramai blognya, silakan ketemu dengan pakdhe Cholik dari Sukolilo Surabaya pak. http://mascholik.com pasti disambut ger-geran mengko.
[Reply]
Pemilu tahun 1955 kalau tidak salah diikuti 60-an partai, tapi berlangsung damai dan lancar. Mungkin bisa dijadikan contoh kedewasaan berpolitik juga tuh
[Reply]
@Pak Guru Go! Blog: Matur nuwun gelem mampir.
Masalah modereasi komen, bawaan dari theme. Aku yo gak ngerti cara ngilangi moderasine. Tapi berlaku hanya buat kunjungan pertama. Sak teruse gak perlu dimoderasi lagi.
Onok saran ta cara ngilangi moderasine?
[Reply]
lho komen yang tadi kok gak masuk?
kemarin saya coba akses blog ini gak bisa,
satu lagi…kenapa blog kita belum dikenal mbah google ya
[Reply]
@Pak Sastro: Pak sastro baru pertama kali komen di blog ini jadi harus melalui moderasi dulu. Berikutnya gak perlu moderasi lagi. Itu bawaan dari theme. Mboh, saya gak ngerti carane ngilangi moderasi.. mumet aku
Mungkin itu problem dari hosting murah, memorinya suka ilang. Kalo diakses gak bisa berarti out of memory. Tp, jangan bilang2 ama pak yayat yo!!!
Mbah google tak kabarane dhisik.
[Reply]
gimana dah ketemu mbah gugel
[Reply]
hmm … tulisan yang menarik dan reflektif, mas akhta. jadi inget tawuran dan adu mulut para anggota pansus. kedewasaan dan fatsoen politik mereka dalam berdiskusi sangat diragukan, mempertontonkan cara2 yang vulgar dalam merespon perbedaan pendapat. guru pun juga punya banyak karakter dalam menangani perilaku anaki.
[Reply]
mas Bayu tak bilangin kalau rencana borneo forum dibalik saja menjadi forum borneo. pilihan pertama berkonotasi porno…coba bayangin… kalau ada yang bilang,”Tu bubuhan BF lagi ngadep anggota dewan..” lho khan gak sip to… beda kalau pililhan kedua disingkat FB atau eFBe, lak lebih baik tanpa mengubah cita-cita para founding father… gimana menurut sampean
[Reply]
aku kalau komen pakai email sikembar, gambarku gak muncul?
komenluv-e kok gak jalan
[Reply]
@Pak Budi: Setuju dengan idenya pak, kalo BF nanti dikiranya punya Pak Bayu doang.
Komenluv gak jalan? mboh gak ngerti? Males ngutak-ngutike.
[Reply]