Bejo tidak habis pikir terhadap guru yang masih membedakan antara Guru PNS dan Guru Non PNS alias Honorer. Penilaian picik macam itu tentunya bukan dari masyarakat atau peserta didik, tetapi berasal dari rekan kerja/partner guru sendiri. Murid Bejo tidak pernah peduli dengan status Bejo yang masih honorer. Mereka selalu mengganggap bahwa Bejo adalah guru mereka. Gak peduli PNS atau bukan. Orang tua murid juga gak peduli pada status Bejo. Mereka hanya tahu Bejo adalah guru anaknya.
Tapi yang selalu membedakan status adalah rekan guru dan kepala sekolah. Terlihat dari sikap yang pilih kasih terhadap kesempatan mengembangkan diri. Dengar aja omongan mereka, “Jo, kamu tuh masih honorer, belum saatnya kamu ikut pelatihan!” “Jo, kamu tuh bisa apa? Kamu kan masih honorer gak ngerti tentang PAIKEM dan KTSP!” “Jo, honorer itu belum saatnya ikut sertifikasi!” “Honorer kok dijadikan kordinator laboratorium?” dan masih banyak kalimat-kalimat yang lain. Emangnya hanya guru PNS yang boleh ikut pelatihan? Apakah guru honorer gak boleh menuntut ilmu? Apakah honorer gak boleh profesional? Apakah guru honorer ngajarnya cuma setengah hati? Kalo guru honorer lebih berdedikasi, dikatakan cuma cari muka agar diusulkan diangkat jadi PNS. Tidak ada yang memuji malah dijatuhkan harga dirinya dengan mengatakan “halah, honorer aja gaya!”
Hal yang sama juga dialami rekan Bejo, si Adul (lihat tulisannya disini), dan rekan-rekan lainnya yang tergabung dalam forum guru honorer. Pantaskah sikap pendidik yang “profesional” dan lebih senior dari Bejo bersikap seperti itu? Tentu semua pembaca yang “melek” akan sama menjawabnya. “GAK PANTES!”
Coba saja bandingkan antara si Bejo guru honorer dengan Guru PNS yang sudah sertifikasi di sekolah Bejo SMPN Morat-marit dengan tujuan memberikan penilaian apakah Bejo layak dianggap kurang berdedikasi atau hanya orang yang nggak kebagian lapangan pekerjaan lain dan terpaksa jadi guru meskipun Cuma honorer.
- Guru PNS Profesional wajib membuat Perangkat Pembelajaran, Bejo juga.
- Guru PNS Profesional wajib mengajar 24 jam tatap muka setiap minggu, Bejo mengajar 16 Jam di SMP, 6 Jam di Pesantren, 2 Jam Ekstra Kurikuler, 2 jam Pramuka, 2 jam bimbingan siswa berprestasi.
- Guru PNS Profesional wajib memiliki komputer jinjing (labtop) sebagai penunjang perangkat pembelajaran dan alat bantu mengajar, Bejo juga.
- Guru PNS Profesional membawa Labtop kesekolah untuk mengetik tugas-tugas sekolah, Bejo menggunakannya untuk alat bantu mengajar dan menyimpan materi-materi yang akan diajarkan berkaitan dengan PAIKEM.
- Guru PNS Profesional tidak memiliki jam tambahan untuk pengembangan anak didik berupa les tambahan/kursus diluar kegiatan pembelajaran, Bejo memiliki 90 orang siswa yang minta diberikan les tambahan.
- Guru PNS Profesional sering meninggalkan kelas karena ikut pelatihan A, B, C, D tapi gak pernah ada perubahan secara signifikan terhadap sikap dan keilmuan dalam kegiatan belajar mengajar, Bejo gak pernah kemana-mana dan selalu disekolah untuk para muridnya. Ilmu mengajarnya berkembang dari hasil browsing, blog-walking, dan mencuri ilmu dari guru-guru senior.
- Guru PNS wajib membuat laporan berkala guna naik pangkat, Bejo tidak. Waktunya hanya digunakan untuk selalu membuat materi yang berdasarkan PAIKEM agar siswanya semangat bila dia mengajar.
Dari beberapa poin diatas bukan bermaksud meremehkan guru senior dan sudah bersertifikat profesional, tetapi hanya ungkapan kekesalan Bejo dan guru honorer lainnya yang masih dianak tirikan oleh rekan-rekan guru yang lain. Berhentilah melihat status karena yang ada dipikiran Bejo cuma ingin berguna bagi anak didiknya dan masyarakat. Berilah kesempatan yang sama pada guru honorer untuk mengembangkan diri. Kalo ada Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bermutu (MGMP Bermutu) yang di programkan oleh dinas pendidikan untuk meningkatkan kualitas mengajar bagi guru, ajaklah si Bejo, kalo memang semua guru PNS ikut biar dia tidak mengintip dari luar jendela karena pingin juga menjadi “guru bermutu” tetapi statusnya masih honorer. Bukankah tujuan para guru sama yaitu ingin mencerdaskan kehidupan bangsa.
Guru honorer juga manusia, punya rasa, punya hati. Jangan samakan dengan pisau belati. Pada akhirnya mungkin si Bejo berfikir bahwa hidupnya hanya untuk melihat anak didiknya berhasil dan berguna bagi nusa dan bangsa. Tidak peduli akan nasib dia yang honorer seumur hidup. Toh nasib ada ditangan Tuhan. Tapi tolong jangan remehkan guru honorer.
“Ya sudahlah Jo, sekarang yang penting kamu harus melihat dan menciptakan senyum dibibir anak didikmu. Buang segala iri dan dengkimu yang merupakan sumber penyakit kekesalanmu. Jangan biarkan penyakit itu menggerogotimu sehingga sampai mengorbankan jati dirimu. Mengalirlah seperti air dan bermuaralah pada telaga yang sejuk atau lautan luas. Tidak selamanya air berada di selokan atau got-got yang kotor. Mereka selalu berganti oleh hujan deras, meresap ke tanah atau menguap diangkasa luas. Jika engkau menguap, akan menjadi hujan yang bermanfaat bagi alam. Jika engkau meresap, tumbuhan akan mengisapmu demi kelangsungan hidupnya. Biarkanlah dendang lagu yang diputar keras tanda pesta, jangan kau hiraukan nasibmu. Hanya kehampaan yang ada, kekosongan dan tidak berarti apa-apa,” dengarkanlah ocehan si tukang minta-minta.


Pertamaaaaxxxx dulu
[Reply]
sebuah pola feodal yang masih melekat kayaknya Pak. Kejadian seperti ini dialami juga sama kawan saya yang di Jakarta. Semuanya kembali kepada kesadaran masing-masing.
Di sisi lain walau kasus yang berbeda saya mengalami hal yang sama.
Namun di dunia blog malah tidak menemukan itu. Kita malah bisa riang bersama.
Mungkin obatnya ketika kita bertugas harus membawa sabar lebih dari satu karung supaya cadangan sabar kita lebih banyak.
Maaf kalo kurang berkenan ya untuk Pak Bejo
Salam hangat dan sukses selalu
[Reply]
akhta Reply:
February 24th, 2010 at 7:21 am
Bejo senang Bapak yg pertamax komeng di tulisan saya.
Tenang pak, Bejo kalo kesekolah membawa 2 karung sabar. Dia terkenal guru yang paling sabar, gak pernah marah, kocak, menyenangkan sehingga dicintai murid2nya. Kl diadakan lomba guru terfavorit, dia bakalan menang tidak dengan diundi.
Tp sampai dirumah stok sabarnya biasanya sudah habis, dia selalu marah2 sama saya..wakakakaak
Sukses selalu buat pak yayat.
[Reply]
Bejo luar biasa!
Menurutku Bejo sudah menjadi guru yang sesungguhnya
Semoga selalu dikaruniakan hati yang luas, memiliki sabar yang tak bertepi.
Tak perlu lagi penghargaan dari manusia ya Jo..
[Reply]
akhta Reply:
February 24th, 2010 at 1:02 pm
@Bundo: Terima kasih Bundo, nanti pesan Bundo akan sy sampaikan ke Bejo!
[Reply]
Oalah jooo bejo. Nasibmu tak se-bejo namamu. Seng sabar lan sareh ya Jo. Status bukan jaminan tingkatan ilmu. Status hanya sebagai stempel waktu erek2 njupuk amplop bulanan.
[Reply]
akhta Reply:
February 24th, 2010 at 1:01 pm
Terima kasih atas doanya buat Bejo, tp nasib bejo sebenarnya sama dengan namanya. Dia hanya berkeluh kesah mewakili teman2 honorer lainnya. Buktinya dia menang lomba dari pak yayat.
Terima kasih buat wong ndeso yg berkunjung ke pedalaman kalimantan.
[Reply]
Tenang saja, Jo, yang penting teruslah menjunjung sikap pelayanan terhadap peserta didik dengan sepenuh-penuhnya. Tak perlu risau hanya karena pembedaan Honorer dan PNS. Di mata Sang Khalik, tak ada itu Honorer dan PNS. Yang ada adalah guru yang memanusiakan manusia ciptaan Sang Khalik. .
Sungkowoastro´s last blog ..REALITAS YANG MENGGETIRKAN
[Reply]
Saya sendiri pernah menjadi guru hononer dan skrg sudah PNS. Apa yang saya lakukan saat menjadi guru honorer dan PNS tidak berbeda, tetap berusaha se-profesional mgk dalam mendidik siswa. ^_^
Nurita Putranti´s last blog ..k@Borneo meeting di Pontianak
[Reply]
akhta Reply:
February 24th, 2010 at 12:57 pm
Senang sekali rasanya mendengar bahwa penghinaan buat ibu telah berakhir.
Semoga sukses menjadi guru PNS, jangan menghina yang honorer ya!!hehehe
[Reply]
bejo,,, sungguh orang yang berhati besar dan luas,, andai smua org kek bejo
berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasih
[Reply]
akhta Reply:
February 24th, 2010 at 12:56 pm
@ Darah Biru :Terima kasih kunjungannya Juragan, pujian Bapak akan saya sampaikan ke Bejo.
Bejo pasti besar kepala!
[Reply]
bilangin sama Bejo ya.. mbokya sekali-kali posting bahasa engres.. bira gak diremehno..kalau kesulitan aku punya kuncinya (kunci inggris)
.
@Pak Bud: Lha nanti kalo salah semua tata bahasanya malah diremehno.
Wah, takut salah aku pak!
[Reply]
bilange ‘TANPA WARNA MERAH”.. kok avatar ada merahnya, terus html couter yo merah.. wis…wis
.
@Pak Budi: html counter kan yang ngitung bukan saya, lagian itu dikasih orang, kalo avatar kan nunjukin kl sy orang endonesia. Mosok bendera tak ganti warna biru.
[Reply]
pak ini ada perbaikan NUPTK dah kirim ta
itu untuk semuanya,bukan yang PNS thok
[Reply]
ibu saya dari dulu cuma seorang guru honorer, dan aku bangga karena ibu g kalah dengan guru biasa

wahyu´s last blog ..Bebek Sinjay Madura, Sambal Asam Pedas
[Reply]
karena saya guru swasta maka tidak merasakan hal-hal yang merendahkan semacam itu, bahkan kesempatan sertifikasi terbuka lebar, bisa dibilang dari pesantren lebih memiliki peluang karena jam tugasnya lebih banyak dari sekolah yang lain
[Reply]
wah semoga dunia pendidikan Indonesia memiliki persaingan yang lebih sehat…
sauskecap´s last blog ..Jajanan Sekaten, From Jogja With Food
[Reply]
sungguh keblinger kalau masih bersikap diskrimatif dengan membedakan antara guru pns dan guru honorer. itu hanya sebuah pelabelan yang ndak akan pernah menguntungkan buat kemajuan dunia pendidikan. yang penting, pak bejo ndak perlu patah arang. tetep semangat!
sawali tuhusetya´s last blog ..Blog Free in Blogdive
[Reply]
berkunjung kembali untuk melihat nasib si Bejo. Sudahkah lebik baik atau masih seperti kemarin.
Salam hangat, sukses dan jabat erat selalu dari Lereng Muria

cah ndeso´s last blog ..Indahnya Tali Persahabatan
[Reply]
That is interesting point of view, but I can`t agree at all.
[Reply]
Menghela napas nasib pendididikan Indonesia hiks …
[Reply]
Nasib pendidikan kita semakin buruk saja …

Keisya´s last blog ..Gucci Crossbody Bag
[Reply]
This type of good site always useful for people.
Skewel´s last blog ..Can Your Child Reach the Poisonous Items in Your Home
[Reply]