“Jangan lewat Buntok!” seseorang memperingatkan kawan saya yang hendak bepergian ke Palangkaraya. Menurut informasi jalan menuju Palangkaraya terputus oleh banjir bandang tepatnya didaerah Timpah pertengahan Buntok – Palangkaraya. Kawan saya langsung memutar haluan tidak jadi lewat Buntok. Dia menuju Palangkaraya Kalimantan Tengah melewati Banjarmasin ibu kota propinsi Kalimantan Selatan. Ini berarti dia harus menempuh perjalanan darat 12 jam. Kalau saja dia melewati Kota Buntok Kabupaten Barito Selatan, dia hanya menempuh perjalanan darat selama 4 jam untuk sampai Palangkaraya.

Kadang kala kita tidak bisa mengambil analogi dari peristiwa kehidupan yang terjadi sehari-hari. Mengapa kawan saya harus percaya pada berita yang belum tentu kebenarannya. Sang pembawa berita tidak dikenalnya. Dia tidak tahu karakter si orang tersebut apakah dapat dipercaya atau tidak. Kawan saya berfikiran bila berita itu benar maka selamatlah dia dari suatu bencana bila dia menerobos banjir bandang, namun apabila berita itu tidak benar tidak ada ruginya menempuh jalan berputar untuk sampai tujuan.

Saya tersenyum dalam hati. Dalam benak saya berfikir mati pastilah terjadi. Ada dua kemungkinan yang bakal terjadi. Pertama, kita menguap seperti korek api yang padam dan tidak terjadi apapun setelah kita mati. Kedua, kita akan mengalami hidup abadi dialam lain dengan segala konsekuensi atas perbuatan kita didunia. Mana yang lebih kita percayai?

Jika mengambil analogi seperti yang dilakukan kawan saya dalam memilih jalan, saya lebih memilih kemungkinan kedua. Jika kemungkinan pertama yangterjadi, maka tidak ada salahnya atas hidup saya. Namun jika kemungkinan kedua yang terjadi, maka saya sudah mempersiapkan segalanya dari sekarang meskipun sangatlah kurang bekal saya. Atau kita akan tenggelam dalam penyesalan yang abadi.

Silahkan memilih jalan anda sendiri dan jangan ikut-ikutan saya!!

Gambar : ust. Chandra’s Blog.

Random Posts

12 Responses to “PENYESALAN YANG ABADI”

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
[+] kaskus emoticons nartzco